Serangkai makna indah akan berubah menjadi tak berarti apabila tak dapat dijaga. Aku hanya dapat berusaha semampuku menjaga semua yang sudah aku dapatkan. Mungkin ada yang mengatakan perfectionist, mungkin ada yang mengatakan terlalu ribet atau apalah. Tapi usaha untuk mendapatkan makna indah itu tidaklah mudah, harus merelakan berbagai hal, harus menjalani berbagai hal. Aku hanya mencoba mempertahankan makna indah itu. Ada orang bilang, mempertahankan itu lebih sulit daripada meraih. Memang begitulah adanya, ketika mencoba mempertahankan, banyak orang yang memandang sebelah mata. Tapi kini, aku hanya mencoba dengan keras mempertahankan apa yang kudapatkan, bahkan tak sekedar mempertahankan, aku akan terus memperindah makna itu, akan kucoba seperti tembok yang tak banyak berucap tapi mengetahui banyak hal.
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Rabu, November 14, 2012
Rabu, Oktober 31, 2012
Tentangmu
Keringatmu
terus bercucuran. Otakmu terus kau putar. Kakimu terus kau langkahkan. Ragamu terus
kau pekerjakan. Jiwamu tak pernah tertidur. Hatimu terus bergerak. Kau tak
pernah katakan kelelahanmu, tapi aku melihat sendu matamu mengatakan semuanya. Kau
letih, kau butuh istirahat, kau butuh penyandar. Tapi aku, aku hanya menambah
kerjamu, aku hanya menambah keringatmu, aku hanya menambah langkahmu, aku makin
mempekerjakan raga dan hatimu. Maafkan aku yang tak pernah bisa meringankan
beban di pundakmu itu. Maafkan aku yang hanya bisa menantimu, menunggumu
memiliki sedikit waktu untuk berucap. Maafkan aku yang hanya memacu otakmu. Inginku
memberikan seluruh waktuku untuk kau gunakan. Inginku menghapus sendu kepedihan
dimatamu. Aku yang tak tau malu ini, aku yang terus membuatmu bekerja ini, aku
yang tak mudah merespon ini hanya bisa berucap kata, hanya bertutur doa, hanya
bisa menatap penuh tanya, hanya bisa mencoba memberi keteduhan untukmu. Maafkan
aku...
Gelap Mulai Terang
Setelah sekian lama, kini aku merasakan sebuah
rasa yang selama ini tak pernah tergambarkan olehku. Hanya persepsi orang yang
aku dapati selama ini. Sebuah rasa yang ternyata penuh warna, rasa dimana semua
terlihat buta, rasa dimana semua terkesan indah namun seketika dapat menjadi
petaka.
Awalnya terbersit perasaan takut, ketakutan
yang tak terucap. Seperti seorang bayi mencoba untuk turun ke lantai, mencoba
langkah pertama untuk menapaki hidup. Seperti seorang pilot untuk pertama kalinya
menerbangkan pesawat beserta awaknya. Ketakutan yang ingin dijalankan,
begitulah keadaannya.
Seperti dalam kegelapan, kucoba meraba hatiku
sendiri, mencoba merasakan apa yang sebenarnya ada di dalam hati ini.
Seolah semua terasa gelap, dengan rasa takut
namun penuh harap, aku mencoba memasuki ruangan yang tak kukenali. Gelap,
benar-benar gelap semuanya, tak ada cahaya. Semua tak terlihat. Satu per satu
langkah kaki ini ku jalani meski kedua tangan ini tetap meraba keberbagai arah,
mencari sebuah benda atau apapun itu untuk kujadikan penyangga tubuh yang lemah
ini. Benar-benar kurasakan seperti seseorang yang buta. Ingin kuteriak, ingin
kumenangis, ingin ku berlari, tapi aku tak bisa. Seperti telah terkurung di
ruangan ini.
Sebuah kekuatan dalam diri ini memaksaku untuk
tetap berdiri dan melangkah maju. Perlahan kudapati sebuah benda, tapi aku tak
mampu melihatnya, karena gelap masih menerpaku. Entah seperti apa benda itu,
hanya bisa kuraba, hanya bisa kurasakan. Tapi, benda itu terasa belum berdiri
kokoh, benda itu masih terasa mudah goyah. Akupun tak berani mengambilnya, lama
aku terdiam, mencari tahu, membayangkan, merasakan dan menerka-nerka, apakah
benda itu, mampukan benda itu menolongku dalam gelap ini. Ribuan tanya muncul
dalam benak ini.
Langkahku terhenti pada titik itu, hanya untuk
mencari tahu apa sebenarnya benda itu. Makin lama, makin kurasakan benda itu,
makin membuatku penasaran. Oh Tuhan, apakah ini, selalu muncul tanya dalam
diriku. Jiwa ini merasa tak tenang, petakakah benda ini atau penolongkah? Detik-detik
ini terasa makin berjalan lambat, hanya untuk mencari tahu, hanya untuk bertanya-tanya, membuat waktu berjalan
lebih lambat.
Terasa begitu sangat lama, hingga perlahan
benda itu terasa makin keras, makin kuat, makin kokoh. Benda yang terasa tak
aneh lagi, mulai memunculkan cahaya, pelan dan pelan cahaya itu mampu menerangiku.
Membuat mataku perlahan mampu melihat meski masih sangat redup.
Masih ragu untukku membawa benda itu, masih
ragu untukku melangkah kembali. Tapi hati ini sudah lelah, lelah untuk terus
diam, lelah untuk menunggu. Kuputuskan untuk mengambil benda itu, redupnya
cahaya masih belum mampu membuatku melihat dengan jelas. Benda itu ternyata
lebih kuat dari yang kuduga, tak sekedar memunculkan cahaya, ia pun mampu
menyangga tubuhku yang semakin lemah ini.
Satu per satu warna muncul dari benda itu. Detik
demi detik benda itu mampu menopang tubuhku. Langkah demi langkah benda itu
mampu membawaku maju. Sungguh aneh, tapi perasaanku semakin tenang. Gelap sudah
mulai terang.
(**hingga akhir juni)
Jumat, April 06, 2012
Point Point (Gag tau apa)
Ini
ceritanya saya lagi galau.
-
Galau saya ini
karena saya sedang sensitif,
-
Karena saya sedang
sensitif, saya sering merasa sendiri
-
Saya merasa
sendiri karena tiba-tiba sahabat saya terasa menjauh,
-
emm... bukan,
mungkin saya yang terkesan menjauh dari mereka.
-
Ya mungkin saya
pikir mereka yang menjauh, tapi mereka pikir saya yang menjauh. Jadi menurut
saya, ini soal rasa, mereka dapat merasa saya yang menjauh, saya dapat merasa
mereka yang menjauh. Tapi ya sudahlah, toh saya tak terlalu mempermasalahkannya
-
Nah, kesendirian
ini mungkin karena kesibukan saya, kesibukan saya berbeda dengan sahabat saya,
jadi ibaratnya kini kami berada di dunia yang berbeda, namun kami masih bisa
saling berinteraksi. Yah walaupun intensitasnya sangat berkurang
-
Oke, mungkin
dulu waktu awal-awal kuliah, kami selalu bersama, bekerjasama selalu, main
bersama, dan lain sebagainya.
-
Kini, mungkin
tak bisa lagi seperti itu, kegiatan saya berbeda dengan mereka. Saya mungkin
dianggap “sibuk” oleh teman-teman dekat saya, jadi mereka tak mau mengganggu
saya. Itu yang mungkin membuat saya merasa sendiri, mereka sebenarnya tak
menjauh, mereka hanya memberi kesempatan kepada saya untuk beraktivitas (ini
sih positive thinking saya aja, dari pada mikir yang aneh-aneh)
-
Saya pun tak
dapat mengganggu mereka, mungkin mereka pun ingin menikmati kegiatan mereka
saat ini
-
Saya tak boleh
mengganggu mereka
-
Mereka sudah
memiliki kesenangan sendiri
- Mereka sudah
merasakan kenyamanan (mungkin)
- Saya pun harus
menghargai itu
- Mungkin mereka
menjauh, oh tidak, saya yang menjauh, oh tidak apapun lah itu, tergantung
persepsi siapa.
·
Mungkin karena
sikap saya yang kurang berkenan di hati mereka (Maaf yaa)
·
Mungkin karena
mereka sudah tidak membutuhkan saya lagi (tak apa, tapi kalau suatu saat
membutuhkan saya, katakan saja),
·
Mungkin juga
karena mereka telah mendapatkan kesibukan masing-masing
· Mungkin karena
mereka telah menemukan kenyamanan persahabatan (mungkin itu bukan saya)
-
Ini hanya
kegalauan saya, kegalauan yang berasal dari rasa sensitif, sehingga hal kecil
pun terasa berat.
-
Ini masalah rasa
yang saya miliki kini
-
Ini bukan
masalah siapa yang benar dan salah
-
Disini tidak ada
benar dan salah
-
Ini hanyalah
persepsi saya akan stimuli indrawi dari pengalaman objek yang saya tangkap atau
respon terhadap suatu hal. Persepsi ini bermula dari sensasi saya atau respon
cepat saya akan apa yang saya sering lihat kini.
-
Baik, inilah
curhat saya sedikit, mungkin Anda yang membaca ini dapat berdiskusi dengan
saya, mau diskusi apa? Atau ada yang merasakan hal yang sama dengan saya? Yah,
ini sekedar rangkaian kata, yang belum dapat menggambarkan keseluruhan apa yang
saya ingin ungkapkan. Mungkin suatu saat saya dapat edit tulisan ini.
Terimakasih
untuk pembaca J
Sabtu, Maret 17, 2012
BOLA
Entah angin darimana atau mungkin karena perasaan ini sedang lebih peka terhadap benda mati dari pada benda hidup. Beberapa waktu lalu, sebenarnya sudah sangat lama. Di lapangan hijau, ku saksikan pertandingan sepak bola, ternyata saat itu yang kuperhatikan bukanlah permainnya, tapi terbersit diotakku "Bagaimana perasaan bola itu ya?". Sebenarnya tak terlalu penting, tapi terkadang aku memandangnya sebagai sesuatu yang penting. Hingga akhirnya di akhir acara sepak bola itu, yang masih ku tatap tajam adalah bola yang tertinggal di lapangan, sendirian, tak ada yang mengambilnya. Bahkan tak hanya sampai disitu saja, hingga aku kembali kerumah pun aku masih teringat bola itu, sampai sekarang masih terbayangkan bagaimana kotornya bola itu. Hingga malam itu kuputuskan menulis sesuatu, dan hasilnya adalah seperti ini,
Terbayang bola di tengah lapangan hijau
Ketika permainan berlangsung,
Semua pemain memperebutkanya,
Segala hal dilakukan demi sebutir bola,
Penonton menyaksikannya dengan riuh,
Bahkan aksi tak rasional pun dilakukan,
Tapi ketika permainan usai
Ia diabaikan,
Ditinggal begitu saja,
Tak ada yang tau bagaimana perasaan sakitnya,
Tak ada yang peduli bagaimana keadaannya,
Semua larut dalam suka cita kemenangan dan sedu sedam kekalahan,
kacau memang kalimat yang aku buat, tapi tiba-tiba saja ingin aku tumpahkan di blog yang sudah mulai penuh rayap ini,, :D
Selasa, Januari 24, 2012
Persimpangan Jalan

Sepertinya kini ku berada di persimpangan jalan. Aku tak tahu arah, aku tak tahu jalan. Semua bergerak begitu cepat, dan aku hanya terdiam disini. Tak seorangpun yang menatapku. Tak seorangpun memperhatikanku. Semua sibuk dengan keramaian ini. Persimpangan yang seolah akan terus menghentikan langkahku. Aku tak mampu berjalan kemanapun, depan belakang, kanan atau kiri. Aku bahkan tak tahu arah mana yang harus kutapaki. Ingin rasanya kubuat semua itu sebagai slow motion, namun sayangnya aku tak memiliki remote pengendali yang dapat mengendalikan keramaian ini seperti memutar film yang kita tonton melalui dvd player, atau ingin rasanya aku potong scene per scene menggunakan slice kemudian aku autolink dan aku turunkan speednya menjadi 40 atau aku beri keyframe di beberapa bagian agar aku dapat memperlambat dan mempercepat beberapa adegan. Ah atau mungkin aku tambahkan saja frameratenya menjadi 100fps, agar tiap framenya bisa kuberikan detail detail yang halus. Sayangnya ini bukanlah adegan yang dapat dimanipulasi. Ini adalah kenyataan yang harus dijalani.
Aku harus segera menentukan arah, kemana aku akan berjalan. Aku harus segera memilih, mana yang terbaik untukku. Aku harus abaikan keramaian ini, aku harus memiliki sebuah keputusan sendiri, ini untuk langkahku, ini untuk hidupku, ini untuk mimpiku, ini untuk anganku. Aku harus mampu berjalan tegak di tengah keramaian ini, aku harus menenangkan pikiranku agar aku mampu menentukan arah dengan benar. Jangan sampai aku terjebak ke lubang yang akan menjerumuskanku ke sebuah petaka.
Senin, Januari 23, 2012
Tak Semudah Membalikan Telapak Tangan

Semua manusia itu seperti terbius ketika mendengar kata cinta. Rasanya kata itu bisa melumpuhkan indera manusia. Semua manusia terhipnotis olehnya. Sepertinya kata itu begitu bermakna. Namun sayang, aku sendiri tak tahu seperti apa itu cinta, bagaimana rasanya, ketika melihat teman-temanku menceritakan cintanya, rasanya itu seperti sebuah brantawali yang dibalut coklat yang sangat manit. Dari luar terlihat begitu indah, tapi di dalamnya begitu pahit. Namun, bila keduanya digabungkan akan menjadi rasa yang tak dapat diungkapkan (mungkin). Ah.... apa itu cinta, sebesar ini aku tak mengetahui tentang cinta. Sempat temanku menyatakan "kamu sih gag pernah ngerasain jatuh cinta". Percaya tak percaya, memang benar pernyataan itu, hingga kini aku tak pernah merasakan jatuh cinta. Banyak lelaki yang hadir dalam hidupku, namun aku tak pernah memahami apakah aku mencintai mereka atau tidak, yang kurasakan hanyalah aku senang berbincang dengan mereka, ada beberapa kesamaan antara aku dan mereka, mereka perhatian denganku, aku pun mencoba perhatian dengan mereka. Tapi aku sendiri tak tahu apakah aku jatuh cinta dengan mereka. Aku merasa memperlakukan mereka dengan sama. Semua sama, tapi apakah mereka menganggap berbeda? Aduh, bagaimana si rasanya jatuh cinta? Ada yang bilang, setiap saat setiap waktu selalu teringat padanya. Ada yang bilang jatuh cinta itu tidak dapat didefinisikan, semua terasa indah. Tapi aku tak dapat mengerti itu, aku tak dapat merasakan itu.
Semua yang pernah kulakukan hanyalah seperti drama. Aku mencoba mencintai, ternyata itu bukan cinta, hanya perasaan suka karena kekaguman akan apa yang dimilikinya atau hanya perasaan sayang, seperti take and give gitu.
Oke, mungkin orang menganggap aku ini orang yang beruntung dalam banyak hal. Tapi untuk masalah cinta, mungkin aku bukanlah orang yang beruntung. Teman-temanku selalu menceritakan tentang cinta mereka, ada yang bilang "cinta itu buta", ada yang bilang "bulshit kalo cinta itu buta", yang lainnya bilang "cinta itu manis asam pahit" dan bla bla bla. Banyak banget persepsi tentang cinta. Tapi aku sendiri tidak bisa mempersepsikannya, aku cuma bisa mengutip dari cerita teman-temanku, seperti membuat kesimpulan atas cerita cinta mereka, padahal aku sendiri tak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta.
Banyak orang mengira aku suka sama si"A" atau si "B" atau siapapun deh, alasannya simple, karena aku terlihat perhatian dengan mereka atau karena aku sering bersama mereka atau katanya kalau aku diledekin, aku hanya tersenyum atau apalah. Tapi, sebenernya si, aku sendiri tidak paham dengan itu semua. Aku akan perhatian kalau orang lain juga perhatian denganku, aku sering bersama kalau memang ada urusan bersama, atau masalah aku diam atau terlihat tersenyum, itu sebenarnya aku sedang berfikir dan kebingungan, kalau aku mengelak pernyataan mereka, maka mereka akan menganggap aku mengiyakan pernyataan mereka bahwa aku mencintainya, jika aku marah, rasanya aneh dan gag penting banget ledekan begitu aku harus marah, kalau aku diam, dianggap mengiyakan, kalau aku bilang gag, pasti dibilang "ah boong", kalo aku cuma senyum, dibilang "malu malu mau". Nah sebenenya aku harus ngapain coba kalo diledekin begitu? semua ekspresi dibilang "iya". Jadi sebenarnya tanpa sadar yang menyatakan aku mencintai seseorang itu adalah teman-teman disekelilingku, bukan aku dong. Jadi cinta itu dibuat?
Hmmm.... Banyak yang menunggu aku mendapatkan seseorang, aku mencintai seseorang, tapi kenyataannya, aku sendiri tak tahu arah, aku harus kemana dan bagaimana untuk masalah ini. Aku hanya merasa, suatu saat nanti pasti akan kudapatkan cinta, tak harus berkutat dengan cinta untuk sekarang ini, jika memang belum saatnya kenapa harus memaksakan. Jika sudah saatnya nanti aku pasti akan mengerti, semua butuh proses, tak semudah membalikan telapak tangan :-)
Rabu, Januari 04, 2012
Sepercik Curahan Jiwa
Sudah cukup lama aku tak mengetukkan kesepuluh jemari ini diatas keyboard untuk menggoreskan warna di atas layar ini. Layar yang sebenarnya tak mengerti apapun yang aku goreskan.
Pertama kalinya aku menorehkan cerita nyataku disini. Aku harap tulisan ini bukan sebuah bencana untukku. Ini hanyalah sepercik curahan jiwaku yang tak sempat tersampaikan oleh bibir ini.
Sudah cukup lama aku merasakan keanehan yang menerpa diriku. Beberapa kali aku merasa tak dapat membedakan arah. Jangankan arah utara, selatan, timur dan barat, Arah kanan dan kiri pun terkadang terlupakan olehku. Seperti sebuah mimpi yang tak pernah terjaga, tatapanku mulai kosong, seperti tercuci bersih otak ini, seketika semua ingatan hilang, kemudian kembali seperti semula. Seperti komputer yang ter-restart. Tiba-tiba saja aku melupakan banyak hal disekitarku hanya dalam waktu sekejap saja. Keanehan ini terus aku rasakan beberapa waktu ini. Ini membuatku sedikit terganggu. Terlebih lagi sebuah rahasia besar yang terus kusimpan hingga kini membuatku cukup tersiksa.
Aneh rasanya bila ku ceritakan hal ini. Ini sebuah kebingungan yang tak kutemukan jawabannya. Entah pada siapa ku harus bertanya, aku tak mengerti mengapa keanehan ini terjadi. Kehilangan arah secara tiba-tiba. Ini membuatku bekerja lebih lambat.
Tak hanya itu, sering kurasakan 'de javu'. Apa sebenarnya makna 'de javu' itu pun aku tak begitu memahaminya. Seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata, seperti kita sudah pernah melakukan hal yang sama. Semua terkesan pernah terjadi, dari mulai kejadian, orang yang di dalamnya hingga ucapan-ucapan yang terurai. Percaya tak percaya sebenarnya dengan hal semacam itu. Tapi hal itu seringkali terjadi.
Satu hal lagi yang mungkin orang tak menyangka itu ada padaku. Aku seringkali tak dapat membedakan huruf 'b' dengan 'p' atau 'c' dengan 'j' atau 'k' dengan 'g' atau 'r' dengan 'l'. Sejak kecil aku sudah merasakan itu, tapi kusembunyikan itu semua, aku berpura-pura bisa menulis dengan lancar tanpa gangguan apapun. Padahal kenyataannya ada beberapa huruf yang sulit kubedakan. Bahkan hingga kini pun aku sering terbalik-balik dalam menuliskan huruf itu. Aku terus belajar dan mencoba menyukai menulis agar aku dapat membedakan huruf-huruf itu. Aku salin terus menerus catatan yang aku punya. Hingga akhirnya kini aku mulai dapat membedakannya dengan lebih cepat, meski terkadang tetap ada beberapa huruf yang terbalik.
Tulisanku pun tak seindah tulisan kakak-kakakku yang lain, hingga sebesar ini tulisanku tak indah. Sempat terpikirkan, apakah aku memiliki penyakit 'disleksia'?.
Ya sudahlah, bila memang aku memilikinya pun tak apa.
Dan kini yang masih aku bingungkan adalah masalah begitu pelupanya aku. Dalam sekian detik aku dapat melupakan beberapa hal. Pemikiranku semakin lamban yang kurasakan kini.
Mungkin ibarat komputer, freespace di dalam hardiskku sudah semakin kecil dan RAMnya pun tak sebaik dahulu, sudah banyak bagian yang bekerja tak sempurna. Itulah aku kini.
Langganan:
Komentar (Atom)